.: Ayah... :.

Oleh: Ahmad Roy
Kategori:Curhat
Waktu & tgl post:16/09/2011 20:13wib
Waktu & tgl menulis:30/06/2011 20:14wib
Other:
Ayah...
Perahkah kau melihat sedikit murung ku? Dan pada saat aku termangu menatap suasana kosong sepi ditengah renyamnya bentakan mu? :)
Ayah...
Aku tak mengharuskan kau untuk mengingat tanggal, hari, tahun, bulan, menit, detik, aku dilahirkan oleh ibu tersayang di dunia ini. Tapi tolong ayah tau, berapa usiaku. Aku yakin ayah tau, mungkin tanpa bantuan alat yang biasa kau pakai saat kau gajian. Ya, itu dia, sebuah alat persegi dengan deretan-deretan angka dan symbol-symbol. Alat itu terbiasa dengan nama panggilan nya "kalkulator".
Ayah...
Mungkin hal ini tak perlu aku tegaskan padamu. Karna harapanku, kau lebih tau siapa aku. "Aku bukanlah sebuah robot yang telah kau program hanya untuk mematuhi semua perintahmu. Saat kau tekan tombol-tombol perintah agar apa yang engkau pikirkan dan perintahkan dapat aku lakukan." aku bukan seperti itu ayah...
Ayah...
Mata-mata itu...
Mata-mata itu menatapku. Seolah mereka mengejekku dengan segala ejekan dengan suara-suara yang sungguh tak ada enak sama sekali. Ya, ejekan Jika orang itu tak ber "materi". Tapi ayah... Aku tak mempermasalahkan itu. Aku paham! Aku paham sekali, bahwa kehidupan ini keras! Yang memaksa keluarga kita berjalan diatas rel-rel yang penuh dengan guyuran air mata dan penuh dengan dera kehidupan. :)
Ayah, membahagiakan keluarga adalah cita-citaku yang sampai detik tulisan ini aku tulis belum kesampean... Aku harap ayah memaklumi hal itu, dan memahami sedikit watak anakmu ini yang sedikit lemot berpikir.
Ayah, tahu tidak? Aku sangat sayang kalian... :)

Tapi ayah... Jangan pernah anggap aku robot... Aku sedih yah, jika aku harus sering kesal pada ayah. Akibat ayah yang mengutamakan pendapat ayah sendiri. Aku pengangguran yah, jadi ayah maklum sajalah jika terkadang aku terpaksa merengek padamu meminta uang jajan. Ya, sebatas membeli permen. Yang aku harap sebagai alat yang meng-cancel air mataku jatuh saat hidup ini terasa memang harus dilalui dengan hal itu. Atau aku sering merengek padamu demi membeli suatu barang yang aku inginkan. Aku tahu, kau tak suka hal itu dariku. Tapi, perlu ayah ketahui bahwa, aku juga benci dengan hal itu. Tapi aku cukup senang, cukup bahagia dengan hidup ini. Ya, walaupun tertawa dan tersenyum suatu yang mahal di kehidupanku.
Seperti lagu itu; "senyum dan tawa hanya, sekedar saja... Sebagai pelengkapnya sandiwara.."

Ayah, aku punya kabar gembiara buat ayah. Hari ini aku tersenyum yah... :) anakmu ini minta tolong, jangan diubah ya yah... :) aku sayang ayah dan semua.
Mama, aku sayang mama.

Kuharap, sa'at ayah baca tulisan ini aku anak ayah sudah tak dirumah lagi. Mohon do'a dan restu ya ma, pa, abang, kakak, adik, dan saudara/i ku semua. Sepertinya aku akan merindukan kalian disana nanti. I love you all...
Home

80s toys - Atari. I still have